Cerita Dewasa Save The Earth : White Bird – Part 4

Cerita Dewasa Save The Earth : White Bird – Part 4by on.Cerita Dewasa Save The Earth : White Bird – Part 4Save The Earth : White Bird – Part 4 CHAPTER.1 INTRODUCTION Lust and Lies Setelah membisikan sebuah tawaran nakal di telinga Marissa, Pak Anto melangkahkan kaki menuju meja yang ada didepan kelas. Kemudian ia menyuruh mahasiswa-mahasiswi yang mampu mengerjakan soal dipapan tulis untuk maju menulis hasil jawaban mereka dengan imbalan tambahan nilai di matakuliah yang […]

tumblr_mth9ztmqce1rydvr2o6_500 tumblr_mth9ztmqce1rydvr2o7_500Save The Earth : White Bird – Part 4

CHAPTER.1 INTRODUCTION
Lust and Lies

Setelah membisikan sebuah tawaran nakal di telinga Marissa, Pak Anto melangkahkan kaki menuju meja yang ada didepan kelas. Kemudian ia menyuruh mahasiswa-mahasiswi yang mampu mengerjakan soal dipapan tulis untuk maju menulis hasil jawaban mereka dengan imbalan tambahan nilai di matakuliah yang diampunya. Selang beberapa menit, semua soal yang ada dipapan tulis sudah terjawab oleh mereka.

Pelajaran telah usai. Mereka diberi tugas tambahan yaitu tugas yang di kerjakkan secara berkelompok 5 orang. Tentu saja Evan , Randy, Marsella dan satu lagi Steven tergabung dalam kelompok. Mereka satu kelompok dalam tugas ini. Hanya empat orang??? Nope. Marsella mengajak Marissa untuk ikut bergabung dalam kelompok dan ia menyetujuinya.

#PoV Author

Setelah matakuliah Statistika selesai, Marissa segera menghampiri Pak Anto di ruang dosen. Ia menoleh sekitar, melihat kekanan, lalu pandangannya menoleh kekiri. Ternyata pada saat itu memang keadaannya sangat sepi. Terlihat wajahnya sekilas ketakutan. Entah apa yang akan terjadi diruang dosen, ia hanya mampu berharap semoga Pak Anto tidak berbuat macam-macam dengannya.

P-ppermisi Pak…,Ujar Marissa yang kini tengah berada di depan ruang Pak Anto

Masuk…

Marissa membuka gagang pintu yang ada didepannya, perlahan ia menggerakkan kakinya setapak demi setapak memasuki ruangan Pak Anto. Terlihat Pak Anto sedang asik menggerakkan jarinya diatas keyboard sembari matanya melihat layar komputer yang berada di atas meja. Ia menoleh kearah Marissa.

Silahkan duduk Cha…, hehe..,Ujar Pak Anto dengan ketawa kecil penuh nafsu melihat pakaian dalam Marissa berwarna hitam terpampang jelas dibalik kemeja putihnya.

….Ehmm.. iya Pak, Marissa pun duduk berhadapan dengan Pak anto, ia mencoba mencairkan situasi yang membuatnya begitu gugup..

Lagi browsing apa pak..??,Ujar Marissa

Iya…ini lagi buka facebook…

Wajah Marissa tertunduk gugup, kedua tangannya mengepal dengan keras, tubuhnya menjadi tegang penuh kecemasaan, tatapan matanya enggan menoleh kearah Pak Anto.

Gimana tadi paham kan pelajarannya??,Ujar Pak Anto

Marissa hanya mampu mengangguk pelan. Paham pak… Dengan suaranya yang lirih hampir tak terdengar.

Kamu nggak usah khawatir dengan biaya kuliahmu, biar semua aku yang tanggung asalkan kamu mau menemaniku…,Ujarnya dengan tatapan iblis

……………

Pak Anto kemudian beranjak dari tempat duduknya menghampiri Marissa, kedua tangannya memegang bahu Marissa dari belakang..

Ng-nggak usah tegang gitu…,bisik Pak Anto nakal masuk ketelinga Marissa

………………emmhh.. Maaf pak.,Ucap Marissa risih

Tubuhmu itu bikin nafsu cha.. apalagi waktu kamu striptease seminggu yang lalu dirumah bapak…,Ujar Pak Anto sembari menggerakkan tangannya memegang tangan Marissa.

Dengan sentuhan lembut tangan Pak Anto mulai merangsang Marissa. Ia mulai meraba-raba tangan kanan Marissa yang ditumbuhi bulu-bulu halus menggoda. Aroma tubuh dan rambutnya yang tergurai panjang membuat Pak Anto semakin bernafsu. Seketika ia mendaratkan kecupan hangat di pipi kanannya. Marissa tersentak kaget seolah tidak percaya apa yang dilakukan dosennya sendiri..

..emm Pak.. maaf ini area kampus.., Ucapnya lirih memegang pipi bekas kecupan Pak Anto

Tidak apa-apa cha, nggak ada yang lihat kok..,Ujar Pak Anto menepis pernyataan Marissa

Dari belakang, Pak anto mulai menggerakkan tangannya melepas kancing kemeja Marissa. Perlahan tapi pasti satu kancing yang letaknya paling atas di kemejanya mulai terbuka. Tangan Pak Anto bergerak ke kancing kedua dari atas, lalu ke kancing ketiga, keempat, kelima dan kini terlihatlah payudara Marissa yang terbungkus pakaian dalam berwarna hitam dengan corak bunga yang menggoda nafsu birahi Pak Anto.

Dengan sigap tangan kanan Pak Anto memegang dagu Marissa kemudian melumat bibirnya, Marissa hanya menatapnya kosong, ia menolak lumatan itu, tetapi badannya enggan beranjak dari tempat duduknya. Berulang kali Pak Anto mengecup lembut bibir Marissa yang merah itu, Ia menikmati peraduan bibir itu, Marissa hanya berusaha menjauhkan kepalanya menolak bibirnya di cumbui.

Sesekali tangan Pak Anto mulai bergerak meremas lembut payudara yang ada dibalik pakaian dalam Marissa. Remasan yang hangat dengan kecepatan dinamis, kadang pelan lalu menguat seirama dengan nafsu Pak Anto.

Sshhhh Ahh..,Desah Marissa lirih. Pak Anto tetap menggubrisnya, justru dengan mendengar desahan itu semakin membuatnya nafsu. Kini tangan kiri Pak Anto masih meremas payudara Marissa sedangkan tangan kanannya perlahan bergerak kearah perutnya, mengelus lembut kemudian semakin kebawah menapak pada paha yang terbungkus dibalik rok hitamnya. Tangan Pak Anto menepuk lembut paha Marissa lalu perlahan masuk kedalam roknya mengelus lembut kedua buah pahanya yang putih mulus.

Jj-jangan Pp-pak…,Ujar Marissa lirih

Rileks aja cha jangan tegang….Ujar Pak Anto dengan sigap kembali mencium bibir Marissa

Emmmhhh …ahh…

Wajah Marissa sedikit gemetar menerima ciuman Pak Anto yang bertubi-tubi menyentuh lembut bibirnya , sesekali ia memundurkan kepalanya tapi ia tak kuasa menahan kecupannya. Sembari tangan Pak Anto mulai merogoh kedalam pakaian dalamnya yang diturunkannya. Terpampang nyata payudara Marissa yang padat berisi itu. Dengan sigap Pak Anto memelintir putingnya. Marissa berusaha menepis, tapi tangan pak Anto kembali memeremas payudaranya yang berisi itu. Wajah Marissa sangat ketakutan, tubuhnya amat tegang dan gugup, tatapannya dipenuhi kecemasan jika ada yang lihat kejadian ini, ia menolak tapi tak bisa.

Pak Anto mulai menghentikan aksinya, kini ia mengangkat tubuh Marissa dan membaringkannya di lantai. Ia memulai lagi merangsangnya dengan ciuman lembut, bibir Marissa kembali menolak, tapi seketika tangan Pak Anto terus menahan kepalanya, ia tak berkutik dihujani ciuman penuh nafsu. eemmhh….emmhh..p-ppaak.. jj-jangan..,desahnya lirih. Setelah cukup lama mencumbui bibir Marissa, kini Pak Anto mulai menyerang area sensitif bagian bawah. Perlahan ia membuka selangkangan yang ada dibalik rok Marissa. Kedua tangan Pak Anto memegang kakinya dan dibukanya lebar-lebar. Terlihatlah celana dalam berwarna putih dengan motif bunga terpampang nyata di depan kedua matanya. Tatapan Pak Anto semakin penuh nafsu melihat pemandangan yang nampak elok didepannya.

Its show time…,Ucapnya sembari tangan kiri Pak Anto masuk merogoh ke celana dalam Marissa. Kini tangannya berada didalamnya

Marissa tersentak kaget. Tubuhnya seketika keangkat, ia amat tegang. jj-jangan ppak…shh… Belaian lembut dibagian bawah itu terlalu sensitif. Pak anto mulai menyentuh lembut bulu bulu disekitar kemaluannya. Marissa menggeliat malu, tatapannya kian cemas. Kedua tangan marissa seakan mendorong tubuh Pak Anto tapi tak sedikitpun ia menjauh dari hadapannya.

Tangan kiri Pak Anto dengan pelan merambat semakin bawah dan akhirnya sampai pada sebuah lubang kenikmatan. Dengan pelan ia memasukkan jari telunjuknya kedalam lalu menggerakkannya maju-mundur seirama sehingga membuat tubuh Marissa semakin tegang terutama dibagian selangkangannya.

Sshh..Pakk..tolong jangan la-kukan ..,Ujar Marissa dengan lirih. Ia menjatuhkan kepalanya ke bahu Pak Anto menahan tiap rangsangan yang diberikannya. Kedua tangan Marissa memegang erat tubuh Pak Anto, terdengar isakkan tangis dari Marissa. Ia sangat ketakutan saat ini.
Tanpa menggubrisnya, Pak Anto menggerakan lagi perlahan jari telunjuknya, sesekali membuat gerakan memutar, perlahan, dan penuh tekanan, aaahhh desahan demi desahan kecil lolos dari bibir Marissa, mata besar Marissa pun nampak sayu karena kenikmatan yang Pak Anto berikan , sejujurnya ia tak menyukainya.

Cukup lama Pak Anto memainkan bagian sensitif itu. Ia tak berhenti menggerakan jarinya, cairan putih kental mulai keluar dari kewanitaan Marissa, Pak Anto semakin meningkatkan kecepatan gerakannya, bahkan kini dua jari telah bersarang di liang hangat Marissa.

eemmhh.. p-pak.. rintihan nikmat Marissa semakin terdengar. Lendir Marissa seakan sudah semakin deras mengalir, bahkan ia membayangkan sudah membasahi sekitar liang kewanitaannya, Pak Anto yang melihat Marissa sejak tadi terus mengerang, dengan sigap tangan kanan Pak Anto membekap mulutnya agar tidak terdengar oleh siapapun. Selangkangannya kini mengeras, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Enak kan cha…,bisik Pak Anto sembari tangannya masih terus merangsang liangnya. Emmhh…. Pak anto meningkatkan kecepatan gerakan tangannya, tubuh Marissa mulai menggeliat tak karuan seperti ingin orgasme. Kedua tangan Marissa memegang erat tubuh Pak Anto. Ia sudah tak tahan dengan perlakuan Pak Anto.

Stoppp!,teriak Marissa yang tak berdampak apapun. Suaranya seakan redup akibat tangan kanan Pak Anto yang membekapnya. Kini ia merasakkan kenikmatan dan ketakutan tiada tara merasuki tubuhnya.

Pak Anto memainkan klitoris Marissa dengan jemarinya, napas Marissa semakin memburu tak beraturan.

Mendesah cha ayo sayang…. ucap Pak Anto dengan suara beratnya.

Pak Anto kini menggerakan jari tengahnya perlahan. Memutar jemarinya membentuk huruf J dengan kecepatan konstan.

Shhhh ahhh..emmh….

Nikmat chaa..?? bisik Pak Anto sembari menggerakan lagi kedua jemarinya kedalam liang kenikmatan itu. Marissa tak mampu menjawabnya, dia hanya mampu mendesah mengekspresikan kenikmatannya.

Lagi-lagi Pak Anto semakin cepat menggerakan kedua jarinya, aahhh erangan Marissa semakin keras terdengar dibalik bekapan tangan kanan Pak Anto, napasnya semakin memburu.

Hangat, lembab, dan ketat. Pak Anto sangat menikmati kenikmatan yang dirasakan oleh jarinya. Dia semakin brutal menggerakan jemarinya, jeritan nikmat semakin sering terdengar dari bibir Marissa. Tetap saja jeritannya tak berdampak apa-apa diruangan itu.

Aahhh pp-akk.., sshhh oouuhhhh

Mengeranglah cha…, sebut namaku,bisik Pak Anto

eeemm. . paakk…, sshhh aahhh..

Pak Anto semakin menyeringai, lendir kewanitaan Marissa semakin deras mengalir dibalik celana dalamnya.

aahhh. …

Keluarkan chaa ucap pak Anto sembari terus menggerakan jemarinya tanpa mengurangi kecepatannya sedikitpun.

aarrgghhhhhh paaaaaakk.. Marissa mengerang, mengangkat kepalanya, mencengkram kuat tubuh Pak Anto dengan kedua tangannya, menyalurkan puncak kenikmatan yang baru saja ia rasakan, kewanitaannya pun semakin basah, lendirnya mengalir deras dibalik celana dalamnya. Napas Marissa masih memburu, matanya sayu menatap Pak Anto.

Pak Anto mengusap kewanitaan Marissa dengan kedua jarinya, kemudian menjilat jarinya. Seru kan..?,Ujarnya. Entah mengapa melihat Pak Anto menjilat nikmat jarinya membuat tubuh Marissa bergetar ketakutan yang sangat hebat. Air matanya keluar dengan sendirinya dari kelopak matanya.

Marissa tidak bisa membiarkan nafsu Pak Anto terus menguasainya. Ia juga tak berharap masuk dalam lembah kebohongan yang selama ini menggelamuti dirinya. Ia terbelenggu dalam kepalsuan Pak Anton yang mengancam terhadapnya. Dengan keberanian kuat dari dalam dirinya yang terbendung sejak tadi, Ia mendorong tubuh Pak Anto dengan kedua tangannya hingga Pak Anto terjatuh. Ia merapikkan pakaiannya, memasang kacing dikemejanya. Lalu dengan cepat ia pergi meninggalkan ruangan itu.

— oOo —

Sementara itu dikantin..

Ahh! Pahit amat nii..,gerutu Steven kesal setelah menyeruput kopi yang ada dicangkirnya

Ehmm.. Randy, Evan , Marsella sudah keluar kelas belum ya?,gumamnya dalam hati

Tuttt..tuttt..tutt..

Terdengar bunyi pesan masuk melalui telepon pintar milik Steven. Ia merogoh kedalam saku celana kanan dan mengambil smartphonenya.

From : Marsella
To : Steven
Stev, kamu dimana???

Ehmm….sella?

From : Steven
To : Marsella
Lagi di kantin, kenapa??

Sent item!…

Selang beberapa menit, terlihat dari kejauhan 3 sosok makhluk berjalan menghampiri Steven. Ya mereka Evan, Randy, dan Marsella. Mereka kini duduk ditempat Steven.

Sendirian aja di kantin Stev??,Ujar Randy

Kayak orang ilang aja…..,Ujar Evan menimpal

Gara-gara telat nih.., tapi memang Pak Anto keterlaluan kok sadisnya! Belom apa-apa udah disuruh keluar..

Ehh, kita ada tugas kelompok lho..,Ujar Marsella

Serius??? Terus aku kelompoknya sama siapa..??

Santai aja bro.. kita satu kelompok.. oh iya kelompoknya kan 5 orang, jadi sella tadi ngajakin Marissa buat ikut ke kelompok kita..,Ujar Evan menjawab pertanyaan Steven sambil menepuk punggungnya

Syukurlah…. untung aja punya temen kayak kalian… haha..hahaha,gumam Steven dalam hati

Ehh?? Bukannya Pak Anto nyuruh kamu ke ruang dosen..?? udah?,Ujar Marsella

Hehh?? Oh iyaa sel , Pak Anto kira-kira masih ada di ruangannya nggak ya??

Kayaknya masih, coba aja kamu kesana dulu deh Stev,Ujar Randy

Steven lupa bahwa ia harus menemui Pak Anto diruangannya. Segera ia beranjak dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Randy, Evan dan Marsella menuju ruangan Pak Anto.

Sesampainya didepan ruangannya, langkah Steven terhenti seketika. Ngeeeekkkk.Terdengar suara pintu yang dibuka oleh seseorang. Steven melihat Marissa keluar dari ruangan Pak Anto. Marissa?!. Ia menoleh sekilas kearah Steven dan itu membuat Steven terkejut. Bertapa tidak, Ia melihat Marissa mengusap air mata yang ada dipipinya dengan tangan kanannya, dan ekspresi wajahnya nampak sekali ketakutan. Hhh.. kenapa marissa??,gumam Steven dalam hati

Marissa memalingkan pandangannya, lalu ia berlari kencang meninggalkan ruangan Pak Anto. Bayangannya hilang begitu saja.
Kenapa dia??.. Apa gara-gara Pak Anto??

Steven lalu memegang gagang pintu dan membukanya. Ia masuk kedalam ruangannya dan melihat Pak Anto sedang merapikan pakaiannya

Pp-permisi pak..

Ehhh Steven? Silahkan duduk..,Ujar Pak Anto mempersilahkannya duduk

Sembari duduk, ia berpikir keras tentang kejadian yang barusaja dilihatnya. Marissa..kenapa dia..?.Dan itu membuat Steven semakin penasaran..

emm..Maaff p-pak, Marissa tadi kenapa..??

Hmmm?, nggak kenapa-kenapa kok..

Aneh… pasti terjadi sesuatu sebelumnya..

……………………

Jadi kenapa kamu hari ini terlambat??,Ujar Pak Anto memecahkan keheningan saat itu

Emmm anu pak… macet tadi dijalan..,Ujar Steven mencari alibi

Ya sudah, lain kali jangan diulangi lagi ya, tadi Bapak kasih tugas kelompok, kamu bisa ikut kelompok mana saja,Ujar Pak Anto

Hmm…. , tumben-tumben Pak Anto jadi alus gini..,gumam Steven

Ok pak! Siap!,Jawab Steven tegas

Ya udah cuman itu aja yang mau bapak bicarakan dengan kamu… sana pulang..,Ujar Pak Anto

Steven pergi meninggalkan ruangan Pak Anto lalu kembali ke kantin menemui Evan, Randy , dan Marsella.

Nah tuhh Steven !,Ujar Randy melihat Steven dari kejauhan yang berjalan mendekat kearah mereka

Gimana , kena hukum apa kamu stev??,Ujar Evan

Steven menggelengkan kepalanya.Nggak disuruh apa-apa, cuman disuruh cari kelompok.

Tumben banget Pak Anto nggak sadis, biasanya tuh mahasiswa yang telat dikasih tugas tambahan yang susahnya minta ampun,Ujar Evan menambahkan sambil mengernyitkan dahinya

Serius kok Van, aku nggak disuruh apa-apa.., tapi ada yang aneh sih..

Aneh?? Aneh apa?,Ujar Marsella

Anu… sebelum menemui Pak Anto, Marissa keluar ruangan mengusap air mata yang menetes dipipinya…

Sserius???,Ujar mereka bertiga dengan kompak menatap Steven dengan tatapan tajam

Bersambung…
Butterfly In A Spider’s Web

Author: 

Related Posts

Comments are closed.