Cerita Hot Enam – Part 34

Cerita Hot Enam – Part 34by on.Cerita Hot Enam – Part 34Enam – Part 34 Vi, hayu. Apaan ah, gak mau. Idih, ngambek. Tau ah. Udah ah, anterin aku pulang. Serius nih, ga mau? Serius Reza! Udah, pulang ah. Gak dianter juga bisa pulang sendiri. Hahaha, beneran ngambek. Ya deh, maapin Reza, abisan tadi beneran, kamu emang nafsuin sayang. Huh, nafsu aja yang dipikirin, dah ah, […]

tumblr_ns14a2L3PQ1uuoey5o1_540 tumblr_ns14a2L3PQ1uuoey5o2_540Enam – Part 34

Vi, hayu.
Apaan ah, gak mau.
Idih, ngambek.
Tau ah. Udah ah, anterin aku pulang.
Serius nih, ga mau?
Serius Reza! Udah, pulang ah. Gak dianter juga bisa pulang sendiri.
Hahaha, beneran ngambek. Ya deh, maapin Reza, abisan tadi beneran, kamu emang nafsuin sayang.
Huh, nafsu aja yang dipikirin, dah ah, aku mau pulang.
Hm, ya udah deh, maapin Reza. Iya, dianterin, nih, jaketnya.
Mereka langsung beres-beres dan bersiap menginggalkan kamar kost Reza, namun.

Aaaahhhh, hahahaha. Terdengar teriakan lalu suara tawa dari kamar sebelah. Reza dan Revi saling pandang lalu tersenyum.

Parah tuh mahluk, beneran si Ayu di entot juga. Sore-sore gini pula.
Alah, sendirinya juga sama, tadi kan ngajakin. Sore-sore gini pula. Ejek Revi menirukan perkataan kekasihnya. Kemudian Tapi keras banget tuh teriak.
Iya, padahal kamu kalo lagi maen keras, cuman ga sekeras tadi.
Idih, keras apaanya?
Suaranya sayang, desahannya, keras banget.
Ih, udah ah. Hayu, cepetan pulang. Keburu malem.
Keburu malem atau keburu nafsu? Lagian, kamu penasaran gak si Ayu lagi diapain?
Gak, udah ah, biarin aja, bukan urusan kita.
Hah, iya iya, ayo keluar.

Mereka berdua kemudian keluar dari kamar, Reza mengunci pintu kamar dan bergegas menyusul Revi keluar kontrakan. Namun langkahnya berhenti di halaman.
Eh, say, bentar.
Kenapa? Pertanyaanna tidak di jawab, Reza berlalu memutar ke arah belakang rumah. Sedikit berjuang melalui tumpukan barang-barang bekas. Tujuannya, jendela kamar Joni. Dengan mengendap akhirnya Reza bisa mendekati jendela kamar Joni, beruntung tirainya tidak ditutup, karena jendela kamar Joni sebetulnya langsung menghadap tembok pembatas rumah yang tingginya 3 meter.

Perlahan Reza mendekatkan kepalanya ke jendela, kemudian dia menelan ludah. Dihadapannya terlihat Joni yang sedang melakukan doggy style dengan Ayu. Terasa jantunggnya mulai berdetak dengan cepat. Dipandanginya body Ayu yang putih mulus, dulu, ketika pertama Joni memperkenalkan Ayu kepadanya, sebetulnya Reza pun menyukai Ayu, Ayuthia, seorang gadis cantik, tinggi langsing berkulit putih. Walaupun terkesan kurus, bentuk badannya bagus, bibirnya tipis dan indah, dengan kacamata yang menambah cantik wajahnya. Jilbabnya selalu rapih terlihat. Buah dadanya waktu itu Reza perkirakan pasti tidak besar, dan itu terbukti benar, namun ternyata tidak kecil pula, terbukti terlihat tangan Joni masih bisa mempermainkan bongkahan itu dan meremasnya.

Reza kembali menelan ludah, ketika Joni menghentikan genjotannya dan membalikan tubuh Ayu, mendekatkan penisnya ke mulut Ayu yang langsung saja Ayu kulum. Gila pikir Reza, Deepthroat.

Srekk.

Terdengar suara dari belakangnya. Reza langsung menoleh, dilihatnya Revi sedang berusaha berjalan ke arahnya. Reza langsung memberi isyarat agar Revi tak bersuara, dan menolong Revi agar bisa berjalan tanpa harus menendang atau menginjak barang yang bisa menimbulkan suara keras.

Ngapain si Rez? Ngintip ya?
Sssttt. Udah, sini liat.
Gak mau ah, ngapain ngintipin orang lagi gituan.

Udah, sini. Reza menarik tangan Revi, dan mengarahkan kepala Revi untuk mengintip lewat jendela. Di dalam sana, Joni masih melakukan gerakan memompa penisnya pada mulut Ayu. Mulut kecil dan tipis itu ternyata mampu melahap semua penis Joni yang lumayan besar.

Gggagghhhh gaghh. Terdengar suara denguhan Ayu sampai keluar, walaupun sayup-sayup. Hehe, waktu itu juga kamu gitu sayang. Bisik Reza di telinga Revi, membuat dia keget tentunya, tapi mengingat keadaan mereka sedang mengintip, Revi hanya bisa menelan rasa kagetnya dan berusaha mendorong Reza. Namun Reza kembali membuat isyarat untuk diam dan kembali melihat ke dalam. Kini mereka lihat Joni yang kembali melakukan penetrasi. Tubuh Ayu dalam posisi terlentang, di bawah pinggulnya diselipkan bantal, agar posisi badan Ayu sedikit terangkat. Dan langsung menghajar vagina Ayu.

Melihat adegan ini, mau tidak mau nafsu Revi menjadi naik, nafasnya mulai memburu, dan hal ini tidak disia-siakan oleh Reza, tangannya, tanpa perlawanan dari Revi mulai meremasi dua payudara yang kenyal dan indah itu, Vi panggil Reza, Revi menoleh, dan bibirnya langsung dilumat oleh Reza.

Mmmmmmmppp. Ahhhhhsss. Ahhhmmmm. Bibir mereka saling lumat, lidah bertemu lidah, dan tangan Reza kini sudah meremasi dada Revi langsung, setelah menarik baju Revi ke atas. Puting Revi kini menjadi sasaran jari-jari nakal Reza, memilin, mencubit dan menarik. Revi mulai mendesah, dan Reza sadar, jika ini diteruskan, mereka bakal ketahuan. Reza kemudian menarik Revi ke arah gudang di belakang.

Didalamnya, mereka kembali berciuman dengan ganasnya, tangan Reza tak mau diam, tangan kirinya dengan bernafsu meremasi kedua payudara Revi bergantian, sedangkan yang kanannya berusaha membuka kancing celana Revi. Setelah lepas, tangannya langsung menyusup masuk, mencari vagina Revi.

Aahhhhhh, yangggg, akhh, geliiii.

Reza menjawabnya dengan dengusan, dan seolah-olah ingin melihat Revi tersiksa, kedua tangannya meloloskan celana Revi lengkap dengan celana dalamnya. Bawahan Revi kini polos. Reza kemudian menggesekkan tangannya di vagina Revi. Menggesek, menekan, menggesek, menekan secara bergantian, pelan, kasar dan kembali pelan. Revi benar-benar tersiksa oleh rasa nikmat yang dia rasakan. Belum lagi mulut Reza yang kini melahap payudara Revi bergantian, kiri dan kanan. Hingga.

Keluaaaarrrrr…… ahhhhhhhh. Keluar yanggg, enak bbangeth. Revi mengalami orgasme, badannya bergetar, perutnya mengeras, lalu lemas. Keringat bercucuran, kakinya tidak kuat menahan berat tubuhnya, lalu Revi terjatuh. Reza hanya tersenyum mesum sambil membuka celananya, dan langsung mengarahkan penisnya ke mulut Revi. Lemah, namun Revi mulai mengulum penis Reza. Memajukan kepalanya perlahan, orgasme tadi masih terasa, namun ternyata Reza tidak puas, dipegangnya kepala Revi oleh keduatangannya, lalu meniru apa yang dilakukan Joni kepada Ayu tadi, memasukan penis sedalam-dalamnya ke dalam mulut Revi dan membiarkannya di sana.

Aaggggggghh. Suara tak jelas keluar dari mulut Revi, air liur mulai terlihat menetes dari sela-sela mulut Revi. Sampai Reza kembali mengeluarkan penisnya, Revi terlihat hendak protes, namun kembali Reza menghujamkan penisnya, kali ini tidak mendiamkannya, namun bergerak maju mundur. Reza menikmati entotannya pada mulut Revi.

Gagggh gah gag.

Ahhhh, gila, mulut kamu enak sayang, isepan kamu dahsyattttt, aaahhhhhh. Dari mulutnya keluar kata-kata itu, namun dalam pikirannya, Reza membayangkan dia sedang menjejalkan penisnya pada mulut Ayu, perempuan cantik yang tadi dia lihat sedang digarap Joni, perempuan cantik yang sebetulnya Reza sukai.
Ahhhhh, saya mau keluar Vi, aahhhhhh. Reza tidak mengeluarkan spermanya di dalam mulut sebagaimana biasa di lakukan, Reza menarik penisnya, mengocok di depan wajah
Revi sebentar lalu menembakkan spermanya di wajah Revi, semprotannya mengenai mulut, hidung, mata dan sebagian jilbab Revi, Revi sendiri kaget menerimanya, namun yang membuat dia lebih kaget, adalah kenyataan bahwa di pintu gudang terlihat dua sosok manusia, Joni yang terlihat membawa kayu, dan Ayu, dibeakangnya yang terlihat khawatir, namun perlahan terlihat normal, walaupun terlihat kaku.

Anjing, gelo, sugan teh maling, pek teh aya pasangan mesum di gudang. Hahahahahaha.

Hah, hah, wah, dua kali kepergok ente. Sahut Reza sambil cepat-cepat membetulkan celananya. Begitu juga Revi, yang terlihat malu sekali. Bukan hanya dilihat oleh Joni, namun Ayu kini melihat kondisi dia. Dadanya terbuka, dan bagian bahawnya polos tanpa benang.
Joni, udah, keluar ih, malu tau.
Halah, kalem aja Vi, udah dua kali ini kan, hehehe.

Dua kali apa A? Tanya Ayu.
Hehehe, dua kali kepergok, si Reza ama Revi lagi gituan, hahaha. Jawab Joni sambil tertawa mesum.

Ih, udah ah, diem, gak usah di bahas. Kamu sih Za, pake ngintipin segala.
Huh, ngintip? Ngintip siapa? Tanya Joni langsung.

Hah, engga, ga ngintip siapa-siapa. Ya kan Za? Jawab Revi seraya meminta dukungan dari Reza.
Hehehe, ngintip itu, burung yang lagi masuk sangkar tadi. Jawab Reza.

Anjing, jadi maraneh noong aing keur ngentot Ayu? (Jadi kalian ngintip saya lagi ngentot Ayu?) Tanya Joni frontal. Ayu sendiri langsung berubah, wajah putih dan cantiknya langsung merah. Pandangannya semakin ke bawah. Reza hanya menggaruk-garuk kepala. Dan Revi pun hanya diam.
Ah, parah maraneh. Geus ah, Yu, kita terusin yang tadi, ngeganggu aja kalian! Seru Joni sambil memegang tangan Ayu, Heh, Vi, tuh ada sperma di kerudungnya. Sambungnya lagi, disambut Revi yang panik dan refleks berusaha membuka kerudungnya, namun terdiam, karena sadar, Joni masih disitu.

Halah, biasa aja kali Vi, itu susu ama meki juga udah saya liat, ga papa kali liat kamu gak pake kerudung? Hahahaha. Respon dari Joni, tapi dia tidak tinggal untuk mendengar jawaban Revi, karena kakinya sudah mulai melangkah masuk, sambil dia menarik Ayu, jelas sekali, ingin meneruskan permainan yang tertunda.

==========

Rian masih terdiam, posisi duduknya masih belum berubah, sudah hampir satu jam dia duduk terdiam di pojokan kamar. Masih teringat kejadian tadi siang, masih teringat dia yang dengan rakusnya melumat bibir Nuning. Nuning Nurfitri, gadis cantik yang memang selama ini menghiasi kehidupannya.

Masih teringat dengan jelas apa yang dia rasa kala tangannya meremas dada Nuning yang masih keras, yang sebelumnya belum pernah disentuh oleh tangan laki-laki manapun. Masih teringat pula dalam benaknya suara desahan Nuning, wangi tubuhnya dan rasa bibir Nuning yang mirip dengan Revi.

Ya, Revi, mirip dengan Revi. Kemudian Rian sadar, dan menghentikan aktivitasnya, dengan nafas yang acak-acakan, dia melihat kerudung Nuning yang acak-acakan pula, kemudian Rian minta maaf, lalu mencium kening Nuning. Nuning hanya tersenyum, lalu memeluk Rian dengan perasaan sayang yang tulus. Perasaan Cinta yang tulus.

Revi. Revi. Revi.

Nama itu yang terus terulang dalam benak Rian. Ternyata hati ini masih memujanya. Hanti ini masih miliknya.

Rian berdiri. Ini harus berakhir. Pikirnya. Sudah seharusnya dia melupakan Revi. Namun tangannya meraih HP di dekatnya, membuka aplikasi LINE dan melihat profil Revi, Cantik. Kembali pikirnya yang diikuti dengan penyesalan. Kemudian dia mencari sebuah nama di kontaknya, Udin, namun setelah dilakukan panggilan, hanya suara yang menyatakan jika nomor Udin tidak aktif, lalu refleks dia memainkan lagi layar HP nya dan kembali melakukan panggilan, Ima.

Lama tak ada jawaban, sampai, H-Halloooo, Yannnh… Ada apaah?
Ah, gak apa-apa Ma, iseng aja pengen ngobrol.
Owhhhh, ahh, oh, ya, sokk, ngobrol apa?
Hey, kamu gak apa-apa Ma? Ko gitu suaranya?
Gimanaah emangg? Jawab Ima, kemudian Rian mendengar suara kecil disebrang sana, Udah dulu dong, Rian nih Bim.
Kenapa si Ima ini, ah, jangan-jangan. Pikirnya.

Heh, kamu lagi main Ma? Dasar, kalo lagi gituan, telepon jangan diangkat, bikin orang pengen aja. Yasud, lanjutin deh.
Rian langsung menutup sambungannya. Lalu dia sadar sesuatu. Loh, tadi ko dia gak bilang Mas ya? Biasanya kan selalu Mas. Tadi siapa ya yang dia panggil?

==========

Aggggghhh, gila kamu Bim, si Rian ngambek kan. Ahhhhh, yyaaaa, enak Bimmmmm.
Hah, haaahhgg, memek kamu emang enak Ma, biarin, ahh, asal dia gak tau kalo yang lagi ngentotin kamu ini bukan pacar kamu, ahhhhm, gila, enak banget Ma, udah berapa kali aku entot juga ini memek memang dahsyat.

Akhhhh, aku keluar Bim, akhh, kamuh keluarin jugaa. Ah, cepet, lemes.
Hudah berapah kali, agh, kamu keluar?
Gak tau.
Tiga kali?
Aaahhh, lebih, ahhhhhhh, udah, Bimaaa, capee, keluarinnnn.
Bentar lagihh, ah ah, ah, heuuggghh. Bima menancapkan dalam penisnya ke dalam vagina Ima, langsung menyemprotkan spermanya.
Hah, hah, gila, Fathimah, memek kamu emang nikmat.

==========

Mmmmph, sssshhhh ahhh. Udah ah Yang, belum puasssss, ahk, yang tadi?
Mpppphh, dengana kamu Vi, mmppfffhhh, gak kan pernah puassss. Kembali Reza rakus melumat bibirnya.

Gak Kan Pernah Puas.

Kalimat itu yang dulu Rian katakan. Tidak akan pernah puas.

Udah ah. Revi mendorong tubuh Reza. Udah ya, tadi pagi udah masukin itu ke pantan aku, terus sorenya ke mulut aku, dua-duanya kepergok Joni lagi. Reza menegakkan posisi tubuhnya, terlihat raut kecewa di wajahnya.
Udah ya sayang, nanti lagi, dah malem.
Iya, tapi kan mumpung si mamah tidur Say. Terusin bentar ya? Rayu Reza.
Gak. Udah untuk hari ini, nanti lagi. Jawab Revi tgegas sambil membetulkan tali BH dan diteruskan dengan menutup kaosnya.
Hah, yasudah. Saya pulang. Jawab Reza, tampak jelas sekali rasa kecewanya, Nanti lagi ya, awas kalo gak.
Iya. Sekarang pulang, dah malem. Revi mengantarkan Reza ke depan rumah, berdiri di depan gerbang, menunggu sampai motor yang dikendarai Reza hilang ditikungan.

Rian. Masih Rian.

Revi bergegas masuk, mengambil HP nya, kemudian membuka aplikasi galeri khusus yang dilindungi oleh password. Dia lalu membuka foto Rian, foto terakhir Rian bersamanya. Dan foto selfie mereka, dalam keadaan tanpa busana.

==========

Hoy, tumben maneh, ada apa nlepon? SMS Udin masuk ke nomor Rian. Rian langsung membalasnya. Sono. Kapan bisa maen?
Besok lah, beres nganterin si icha, aing jemput maneh. Sambil si Gusti ada pengumuman cenah.
Pengumuman naon? Bahwa Jakarta bebas banjir?
Haha. Jrit. Parah maneh. Teuing atuh. Besok aja liat.
Ya dah, tapi naha mesti saya kudu di jemput?
Aing bawa mobil. Mayan, nyobaan.
Akh, ibarat ka Hasan Sadikin ieu mah.
Gelo siah.

==========

Akhhh, Riaannnnnnhhh, hhhhuh, ahhhhh. Ah, ah, ahhhhhhh.
Revi mengatur nafasnya, tangannya dia keluarkan dari dalam celana tidurnya, jarinya basah oleh cairan vaginanya. Untuk keberapa kalinya Revi melakukan hal ini. Memuaskan dirinya sambil membayangkan Rian.
Apa Rian merasakan hal yang sama?
Apa Rian masih rindu akan dirinya?
Revi tidak tahu, yang dia tahu sekarang hanya rasa hampa dan sakit di dada. Tanpa sadar, air matanya mengalir. Revi hanya bisa meringkuk, menangis, lalu tertidur.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.