Cerita Hot MENGEJAR SHINKANSEN – Part 8

Cerita Hot MENGEJAR SHINKANSEN – Part 8by on.Cerita Hot MENGEJAR SHINKANSEN – Part 8MENGEJAR SHINKANSEN – Part 8 CURHAT Sebagai seorang laki-laki mungkin semua akan melakukan hal yang sama seperti Fahmi-san. Menunggu dan membiarkan seorang gadis yang tengah bersedih untuk menangis sepuasnya, mungkin jika aku sedang berada didekatnya kurasa Fahmi-san juga bersedia membiarkanku meminjam dadanya untuk menyembunyikan tangisanku. Dia seperti mengerti apa mauku. Aku memang hanya ingin menangis […]

tumblr_nzz2pxnxHn1v1rnc3o9_1280 tumblr_nzz2pxnxHn1v1rnc3o10_1280MENGEJAR SHINKANSEN – Part 8

CURHAT
Sebagai seorang laki-laki mungkin semua akan melakukan hal yang sama seperti Fahmi-san. Menunggu dan membiarkan seorang gadis yang tengah bersedih untuk menangis sepuasnya, mungkin jika aku sedang berada didekatnya kurasa Fahmi-san juga bersedia membiarkanku meminjam dadanya untuk menyembunyikan tangisanku.

Dia seperti mengerti apa mauku. Aku memang hanya ingin menangis saat ini, tidak ada yang lain, tidak ada yang lebih menarik lagi selain menyelesaikan semua sakit didalam hatiku dengan menangis. Bahkan aku ingin berteriak-teriak sekencangnya agar dadaku yang terasa sesak ini terasa lebih ringan. Tapi aku tidak segila itu untuk membuat semua tetanggaku berbondong-bondong kerumahku.

Aku masih menutup wajahku yang memerah dengan kedua telapak tanganku, aku belum bisa bercerita banyak. Meski aku sudah berusaha menghentikan tangisanku, aku ternyata belum bisa.

Luka dihatiku yang disebabkan oleh Jung masih sangat baru. Iya, Jung pemuda blasteran Jepang-Korea yang kuharap bisa menjadi pengganti Daichi, ternyata dia tega menyakitiku. Pemuda itu sangat kejam, bahkan sejak mengetahui sifat aslinya aku jadi berfikir semua bekas kekasihku seperti Renji dan semuanya itu masih jauh lebih baik daripada Jung.

Aku tidak tau apa salahku pada Jung, kami hanya sesekali bertatap muka dan saling tersenyum. Seingatku aku tidak pernah menyinggung dan mengusiknya, lantas kenapa Jung tega mempermainkan perasaanku yang tulus padanya?

Aku tau, selama ini kehidupan asmaraku tidak pernah sekalipun beruntung. Banyak hal yang akhirnya hanya membuat dadaku sakit dan pedih. Aku sudah cukup kuat selama ini, aku sudah menjadi gadis yang keren dan tahan banting kalau hanya berurusan soal kandasnya sebuah hubungan percintaan. Tapi kali ini rasanya aku benar-benar sudah menyerah, Jung telah mematahkan hatiku sepatah-patahnya.

“Hiks…hu…”

“Keiko-chan, kurasa sudah cukup. Ceritakan apa yang terjadi, jangan membuatku khawatir,” suara penuh nada kekhawatiran itu seperti menyadarkanku. Aku hampir lupa bahwa saat ini aku sedang menangis didepan layar monitorku didepan Fahmi-san.

“Hu’um,” Aku mengangguk kemudian menghapus dengan kedua tangan lelehan airmataku yang membasahi pipi. Lalu mengambil tissue yang ada didekatku berbaring tengkurap dikasurku dan mengeringkan ulang pipiku yang basah.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya dengan tatapan yang lembut. Aku ragu-ragu membalas menatap wajahnya, aku tidak percaya diri dengan keadaanku yang sekarang. Pasti mataku bengkak dan hidungku merah seperti badut. Jelek.

Aku mencoba tersenyum. Meski sangat susah, aku berhasil mengembangkan kedua pipiku untuk meyakinkan pada Fahmi-san bahwa aku baik-baik saja. “Su-sudah lebih baik,” jawabku pelan. Aku tidak bermaksud berbicara begitu pelan, tapi memang saat ini hanya suara parau yang dapat aku keluarkan.

Fahmi-san tersenyum. Walau senyumannya itu tampak jelas dia masih menghawatirkanku, hm. Aku tidak tau, apa aku yang terlalu percaya diri atau bukan. Kurasa Fahmi-san benar-benar menghawatirkanku, dia benar-benar seperti Daichi yang baik hati dan selalu memperhatikan masa sulit orang lain.

“Sudah bisa bercerita?” Dia bertanya lagi, sedangkan aku masih diam dan ragu. Dia orang asing, bagiku tidak pantas menceritakan masalah kita kepada orang yang sama sekali tak kuketahui asal-usulnya. Aku hanya tau dia dari Indonesia, itu saja. Aku tidak mau membuka aibku kan? “Kalau kau tidak mau bicara, aku bisa membiarkanmu lebih tenang. Aku akan mematikan sambungannya, beristirahatlah Keiko-chan, kita bisa bicara besok,” lanjut Fahmi-san dengan senyum yang dipaksakan.

“Emh! Jangan! “Aku… aku akan menceritakan semuanya, bukankah kita sudah menjadi teman?” jawabku cepat. Ya sangat cepat aku memutuskan itu, memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi padaku. Meski sebenarnya tak ingin, aku hanya tidak mau Fahmi-san mematikan sambungannya dan membiarkanku sendirian. Saat ini aku tak mau sendrian!

“Jadi?” Fahmi-san mengangkat sebelah alisnya meyakinkan. Penampilannya kini telah berubah, rambutnya dibuat lebih modern dan keren. Emh, kenapa aku jadi memperhatikan penampilannya? Bukankah seharusnya aku menceritakan apa yang terjadi padaku.

Aku tersenyum kembali kepadanya, beberapa waktu yang lalu ia bercerita tentang kehidupan asmaranya yang juga tak berjalan lancar. Kurasa kami memiliki satu kesamaan yang sebenarnya sesuatu yang sangat tidak menyenangkan itu, malahan Fahmi-san mengaku tidak pernah sekalipun mempunyai kekasih. Sebenarnya aku sedikit beruntung, meski selalu kandas setidaknya aku pernah mempunyai barisan mantan yang pernah mencintaiku.

Masih belum percaya padaku ya? Padahal aku sudah menceritakan semuanya padamu, ujar Fahmi-san tampak kecewa.

Ehm… aku baru saja putus dari kekasihku, jawabku pelan menundukkan kepalaku.

Ke-kekasih?? Fahmi-san tampak terkejut, kalau boleh lebih percaya diri aku ingin mengatakannya bahwa dia tampak kecewa dengan jawabanku.

I-iya kekasih. Aku dan dia-

Kau tidak pernah mengatakannya Keiko-chan? Fahmi-san memotong kalimatku, wajahnya benar-benar terlihat kecewa.

Waktu itu memang aku belum menjadi kekasihnya. kau ingat waktu terakhir kita bicara? Tanyaku, dan Fahmi-san mengangguk. Iya, mungkin sekitar 2 minggu yang lalu. Aku mendapat sebuah pesan dari temanku, dia mengajakku kencan dan aku menerimanya,

Lalu kalian pacaran?

Hm… satu minggu setelahnya, aku menerima pernyataan cintanya tapi sayangnya aku terlalu naif, aku menundukkan kepalaku lagi sambil menahan airmataku yang kurasa mudah sekali meleleh saat ini. Setiap kali aku mengingat Jung rasa sakit yang kurasakan semakin menjadi. Tapi karena Fahmi-san sudah percaya padaku, tidak ada salahnya aku juga percaya padanya dan menceritakan semuanya. Hari itu aku,

Hari itu dengan outfit yang agak sporty, Crop top basket jersey, short jeans, dan beralaskan bopper shoes dengan kaus kaki putih pendek, tak lupa bucket hat untuk melindungi kepalaku dari panas, aku menemui Jung. Kami memang akan pergi bersama.

Seperti kesepakatan kami saat mengobrol melalui Line, kami akan jalan-jalan mengelilingi Tokyo. Jung yang memang baru sekitar 3 bulan berada diJepang, ia mengajakku pergi jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat menarik disini. Dia memintaku menemaninya, saat kutanya kenapa dia memilihku bukan Nohara Shin yang kutau adalah teman dekatnya, Jung menjawab bahwa Nohara-san sedang sibuk mempersiapkan liburan musim panasnya.

Kami bertemu distasiun Shinjuku, dengan style-nya yang santai tapi tetap keren. Masih sedikit terbawa style dari koreanya, tapi bagiku masih pantas digunakan di Jepang. Hoodie berwarna abu-abu lengan pendek, skinny jeans hitamnya dengan gothic boots, Jung tampak sangat keren hari itu, ditambah tatapan matanya yang tajam bagai mata elang yang membuat jantungku sedikit lebih keras berdetak. Lalu setelah sedikit berbasa-basi kami membeli tiket kereta menuju Tokyo. Rencana awal kami akan ke Sumida-ku, Tokyo. Melihat Aquarium besar dengan ikan yang langka.

Tapi setelah di Tokyo, Jung terlebih dahulu mengajakku mengunjungi Tokyo Skytree dan melihat pemandangan kota Tokyo dari menara tertinggi di Jepang saat ini, bahkan kabarnya juga tertinggi diseluruh dunia. Aku tidak akan menolak, aku terlalu senang bisa berjalan berdua lagi dengan seorang pria setelah kepergian Daichi, apalagi pemuda itu setampan Jung.

Dengan ketinggian kurang lebih 634m aku dan Jung bisa melihat pemandangan kota Tokyo dari atas sini, sangat indah, andai saja kami kesini pada malam hari mungkin pemandangannya akan lebih indah karena lampu dimalam hari yang berkelip. Tapi bagiku ini sudah cukup, tidak rugi kami berlama-lama mengantri hanya untuk mendapatkan tiketnya, apalagi kami mendapat harga potongan karena kami masih pelajar dan belum berusia 20 tahun.

Kau lelah Kei-chan? tanya Jung menengok dan memiringkan kepalanya hanya untuk melihat wajahku yang lebih pendek darinya.

Um…u,um, kedua pundakku menegang, dan aku menggeleng cepat tidak mau merusak kegiatannya memandangi Tokyo dari atas Deck Observasi ini. Meski sejujurnya aku memang lelah, tapi Jung masih tampak bersemangat.

Kalau begitu ayo jalan lagi, ajaknya. Tak lupa sambil menggengam tanganku dan menggandengnya, aku agak kaget juga digenggam seperti itu oleh pemuda tampan sepertinya.

Berjalan berdampingan dengan Jung tentu saja membuatku merasa bangga, dia tampan dan juga stylish, apalagi beberapa gadis yang kami temui memandangku penuh dengan tatapan iri saat Jung menggandeng tanganku. Itu sangat menyenangkan, sangat membanggakan jika seorang gadis bisa membuat gadis lain iri oleh apa yang ia punya.

Aku ingin melihat gunung Fuji, ucapnya tiba-tiba dan kembali menarik tanganku mengikutinya. Yah memang dari salah satu sisi Tokyo Skytree kami bisa melihat gunung Fuji san yang terkenal diseluruh dunia itu, selain itu kami juga bisa melihat Tokyo tower dari atas sini.

Jung sangat bersemangat, bahkan dia juga bercerita bahwa ia mempunyai rencana untuk pergi mengunjungi gunung Fuji suatu saat nanti. Sesekali dia juga mengambil beberapa foto pemandangannya, katanya nanti sepulang dari sini ia mau memposting fotonya untuk teman-temannya yang ada di Korea. Karena teman-temannya itu banyak yang ingin mengunjungi Jepang suatu saat nanti.

Setelah puas melihat pemandangan menakjubkan dari atas Tokyo Skytree tower, kami memutuskan untuk turun dan langsung menuju Sumida Aquarium. Tapi sebelumnya kami menyempatkan diri untuk berfoto berlatar belakang pemandangan kota Tokyo. Jung mengambil foto kami berdua dengan mendekatkan kepala kami, jarak itu terlalu dekat untuk ukuran teman yang baru saja kukenal. Tapi sepertinya Jung tidak mempermasalahkan hal itu, aku mencoba saja bersikap netral sepertinya, lalu aku membuat tanda Peace dengan dua jari saat Jung menekan touch capturenya.

Tidak perlu waktu yang lama untuk sampai ke Sumida-ku Aquarium karena letaknya masih satu kompleks dengan Tokyo Skytree, yaitu dilantai 5 Tokyo Skytree. Setelah kami membeli tiket masuk, Jung kembali menggandeng tanganku saat memasuki Aqurium. Rasanya lelah dikakiku terobati kalau tanganku selalu digenggam oleh Jung seperti itu. Hehe…

Saat kami memasuki Aquarium, kami langsung disambut oleh suasana Aquarium yang sangat futuristik, dengan lampu flourescent yang seharusnya indah karena kita seperti benar-benar ada dilautan lepas bersama ikan-ikan , tapi tidak buatku. Warnanya memang agak aneh dimataku, warna birunya yang sangat terang membuat mataku tidak nyaman. Beruntung ada Jung yang membuatku bertahan disini.

Suasana didalam Aquarium lumayan ramai, ada beberapa muda-mudi seperti kami yang juga menghabiskan waktu liburan ini. Anak-anak kecil seumuran Kaitaro adikku juga banyak, mereka pergi bersama orangtua mereka, tapi tak jarang juga bersama rombongan satu sekolah mereka dan membuat catatan sebagai tugas.

Bicara tentang adikku Kaitaro, dia sudah cukup lama juga pergi kerumah Bibi Hana di Kyoto bersama Ayah dan Ibuku. Padahal pamitnya hanya satu minggu, padahal ini sudah hampir 10 hari. Hhhhhh…. selalu saja mereka seenaknya membiarkanku sendirian. Kalau saja Kaitaro ada dirumah pasti aku akan mengajaknya, karena ia sangat suka dengan kehidupan laut, apalagi dengan ikan pari yang besar sedang melintasi kaca didepanku itu. Pasti dia sangat antusias. Eh? Tapikan aku perginya bersama Jung-san, mana mungkin aku mengajak adikku yang agak iseng itu. Bisa-bisa dia menghancurkan kencanku ini, hihi… aku saja sengaja menjaga sikap sedari tadi agar semua kesalahanku dimasa lalu tidak terulang.

Nee Keiko-chan, kenapa kau diam saja? Tidak suka kuajak kemari? Jung mengalihakan pandangannya dari ikan pari besar didepan kami kearahku, dan membuyarkan lamunanku tentang Kaitaro.

Eh… iiie! Aku hanya ingat Adikku, dia pasti senang kalau aku mengajaknya kemari, aku tersenyum kearahnya. Wajahnya sangat tampan, meski dia memiliki look yang seperti Daiki yang cool tapi saat bicara denganku dia sangat lembut.

Oh ya? Berapa umurnya? Kenapa kau tidak mengajaknya?

Emm… mana mungkin aku mengajaknya?

Kenapa tidak? Aku tidak keberatan, aku suka bermain dengan anak-anak kecil, Jung nyengir lepas. Walau aku sedikit terkejut dengan pernyataannya, aku sedikit tak percaya pemuda modern sepertinya tidak keberatan jika berjalan-jalan membawa seorang Adik. Tapi itu malahan membuatnya mempunyai nilai lebih dimataku.

Aku memberikan senyuman termanisku untuknya, Umm terima kasih Jung-san…tapi Adikku sedang ada di Kyoto bersama Otousan dan Okaasan, mungkin besok mereka baru datang kembali, jawabku menjelaskan keberadaan Adikku saat ini.

Ouh… kalau begitu lain kali saja kau ajak dia bersama kita, jawabnya. Masih dengan senyum ramah diwajahnya, aku jadi gemas. Oh iya, ngomong-ngomong panggil saja aku Jung. Tidak perlu sungkan seperti itu,

A-anooo… tapi…

Ayo kita jalan lagi, aku ingin melihat pinguin. Lagi-lagi Jung menarik tanganku, bahkan aku belum sempat menjawab permintaannya. Mau tak mau aku harus mengikuti langkahnya meski kadang tertinggal dan membuatku mengaguminya dari belakang. Karena aku sangat suka melihat punggungnya yang kokoh dan rambutnya yang terkuncir kecil.

Sampai ditempat penangkaran pinguin, Jung dan aku melihat beberapa atraksi yang ditampilkan oleh burung lucu yang tidak bisa terbang itu. Beberapa kali Jung dengan konyolnya menirukan cara berjalan Pinguin yang terkesan lucu, lagi-lagi aku tidak menyangka bahwa Jung bisa melucu seperti itu padahal pembawaannya seperti pangeran Vampire yang dingin.

Keiko-chan, sebaiknya kita membeli makanan dulu, aku sangat lapar. Kau juga lapar kan? tanya Jung mengalihkan atensiku pada burung pinguin itu kearahnya.

Aku tersenyum mengangguk menerima ajakannya, yaaa… aku memang sudah merasa lapar, tapi karena perginya dengan Jung aku jadi merasa kenyang. Hehehee… beruntunglah kalian yang terlahir sebagai pemuda yang tampan, tidak perlu mengajak gadismu pergi makan karena mereka sudah kenyang memandangi wajahmu. (hahaha… aku bercanda tentang ini ^^)

Kami memutuskan untuk pergi makan siang disekitar sini saja, karena kami masih belum puas berjalan-jalan melihat ikan yang lain. Karena di Aquarium terdapat sebuah kafe yang menyediakan fast food, seperti Burger dan French Fries dan minuman ringan lainnya akhirnya kami kesana hanya untuk sekedar membeli minuman.

Seperti yang kukatakan, aku tidak terlalu lapar, aku hanya memesan seporsi French Fries beserta satu cup Moccachino Float. Jung memesan Hotdog dan minuman bersoda berwarna biru dengan balok es batu yang dibentuk menyerupai dua pinguin yang sedang berciuman. Its so Kawaii >_<,kalau saja aku tidak pergi dengan Jung pasti aku sudah memotretnya kemudian memamerkannya dimedia sosial.

Sementara aku meminum minumanku sambil mengaduk-adukknya dengan sedotan, Jung yang tengah memakan Hotdog-nya tiba-tiba mendapat sebuah pesan masuk melalui ponselnya. Kemudian ia meletakkan makanannya dimeja dan mengambil ponsel disaku celananya dan membaca pesan yang masuk. Aku tidak tau dari siapa pesan yang ia dapatkan, tapi wajahnya tampak berubah setelah menerima pesan itu.

Gomenne Keiko-chan, aku harus menelpon Kakakku sebentar, dengan wajah yang agak kaku akhirnya Jung meminta ijin. Aku mengangguk saat itu dan membiarkan Jung menelpon seseorang yang ia sebut sebagai kakanya.

Mungkin sekitar lima menit aku menunggunya dimejaku, sambil terus memainkan sedotan digelas plastik berisi Moccachino Floatku yang hampir habis. Disana aku terus terbayang wajah tampan Jung, matanya yang tajam, hidungnya yang mancung dan kulitnya yang agak pucat ditambah bibirnya yang selalu tampak merah muda.

Kudengar pria Korea memang suka merias dirinya dengan perawatan seperti wanita. Walau di Jepang juga ada, tapi untuk sehari-hari kurasa mereka tidak melakukan itu. Mungkin saat-saat tertentu saja, seperti waktu liburan dan sengaja berkumpul di Harajuku untuk memamerkan penampilannya.

Aku hampir saja merasa bosan karena saat kutengok jam putih yang melingkar dilenganku, ternyata Jung hampir pergi selama 10menit. Lama juga. Memangnya apa yang sedang Jung lakukan sih?

Keiko-chan Gomenne… kurasa kita harus pergi sekarang. Tiba-tiba Jung muncul dari belakangku, dan tentu saja membuatku agak melonjak kaget. Aku ada urusan mendadak, Papa akan pulang ke Korea dan aku harus mengantarnya ke bandara, terangnya dengan wajah yang memperlihatkan dia sangat menyesal harus menyudahi waktu kami untuk bersama-sama.

Eeee… kalau memang begitu tidak masalah kan? Kita bisa pergi lagi lain kali, jawabku berusaha tersenyum manis. Walau sebenarnya aku agak kecewa, aku sudah terlanjur senang bersama Jung. Kapan lagi aku dapat kesempatan untuk pergi bersama pemuda setampan Jung?

Yah dengan berat hati aku dan Jung akhirnya meninggalkan Sumida untuk kembali ke Shinjuku, meski tidak terlalu lama tapi acara jalan-jalan kami terasa sangat berkesan. Mungkin buatku saja sih belum tentu Jung juga merasa seperti itu.

Aku merasa tidak enak padamu, tapi mau bagaimana lagi ya. Tapi aku janji, rabu depan kita akan bertemu lagi. Ucap Jung saat kami didepan pintu stasiun Shinjuku tempat kami akan berpisah seperti kami bertemu tadi.

Be-bertemu lagi? Rabu depan? wajahku tampak tak percaya saat itu. Tentu saja, kukira Jung tidak akan mengajakku lagi karena katanya Nohara-san minggu depan sudah pulang dari liburannya.

Kudengar ada film yang bagus yang akan rilis minggu ini, tidak ada salahnya kan kalau kita pergi untuk menonton?

Aku tersenyum kaku, padahal sebenarnya aku ingin melonjak senang saat itu tapi kutahan, aku sudah menahan diriku sedari tadi agar tidak melakukan hal-ahal yang aneh dan memalukan. Dan semoga aku tidak salah dengar dengan itu, Jung mengajakku menonton film bersama.

Kita akan pergi bersama dengan Takagawa Saaya, Kitahara Mae, Nohara Shin. Kau kenal kan dengan Takagawa dan Kitahara-san?

A-apa? aku sedikit kecewa mendengarnya. Kukira kami akan pergi berdua saja, tapi kenapa dia malah mengaja Saaya dan Mae yang jelas-jelas mereka tak suka padaku. Lagipula darimana Jung mengenal Saaya dan Mae? mungkin karena mereka adalah anggota pemandu sorak basket?

Apa kau keberatan Keiko-chan? tanya Jung menatapku dalam.

Eh, itu…itu tidak masalah. Jadi kita akan bertemu lagi Rabu depan, baiklah aku mau! aku berusaha tersenyum lebar untuk menutupi kekecewaanku, meski aku tidak sudi bertemu dengan Saaya yang selalu ingin mempermalukanku. Tapi aku juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatanku untuk bertemu dengan Jung lagi. Karena kurasa aku mulai menyukainya.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.